Ya Jalil

يَا جَلِيلُ بِجَلَالِكَ أَثْبِتِ الْإِيمَانَ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الحمدُ للهِ ذِي الْجَلَالِ وَالْجَمَالِ، أَظْهَرَ عَلَىٰ عِبَادِهِ صِفَاتِ الْجَلَالِ فَخَافُوهُ وَهَابُوهُ، وَأَظْهَرَ عَلَيْهِمْ صِفَاتِ الْجَمَالِ فَأَحَبُّوهُ وَرَجَوْا رَحْمَتَهُ. نَحْمَدُهُ تَعَالَى حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَىٰ. وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لا نبي بعده أَمَّا بَعْدُ.

Yang kami hormati, guru tercinta, murabbī rūḥinā — Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah. Semoga Allah panjangkan umurnya dalam sehat walafiyat dan penuh keberkahan.

Kita semua yang hadir dalam majelis ini, semoga mendapatkan limpahan ilmu, akhlak, dan keberkahan dari guru kita yang mulia. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.

Yang kami cintai dan muliakan: Gus Lubbi, Gus Tomy, Gus Ryan, Gus Najib, Gus Ade, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Guru kita yang mulia pernah berpesan, ketika membaca doa syair karya Gus Miek ini, hendaklah kita menjaga kekhusyukan, kehadiran hati, dan adab.
Sebab doa ini bukan sekadar rangkaian kata, tetapi merupakan ungkapan hati dan limpahan rasa spiritual beliau. Bahkan, bisa dikatakan doa ini merupakan inti dari Zikrul Ghāfilīn.

Salah satu doa syair karya Sulṭānul Awliyā’ fi Indonesia, KH. Hamim Jazuli (Gus Miek), berbunyi:

يَا جَلِيلُ بِجَلَالِكَ أَثْبِتِ الْإِيمَانَ

“Wahai (Allah) Yang Maha Agung lagi Maha Besar, dengan keagungan dan kebesaran-Mu, tetapkanlah iman di dalam diri kami.”

Sebagian ulama menerjemahkan Al-Jalīl (ٱلْجَلِيلُ) sebagai Yang Maha Besar, mirip dengan makna Al-Kabīr (ٱلْكَبِيْرُ) yang juga berarti Maha Besar.
Namun, keduanya memiliki perbedaan makna: Al-Kabīr menunjukkan kebesaran Allah pada Dzat-Nya sedangkan Al-Jalīl menunjukkan kebesaran Allah pada sifat-sifat-Nya.

Itulah sebabnya, ketika shalat kita mengucapkan “Allāhu Akbar (اللّٰهُ أَكْبَرُ)”, yang bermakna Allah Maha Besar pada Dzat-Nya, karena dalam shalat kita sedang menghadap langsung kepada Dzat Allah, bukan kepada sifat-sifat-Nya.

Sedangkan ketika kita membaca Asmā’ul Ḥusnā, ditambahkan dengan kalimat “جَلَّ جَلَالُهُ” yang berarti “Maha Luhur Keagungan-Nya”, karena kita sedang memberikan pengagungan terhadap sifat-sifat - Nya Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

ٱلْجَلِيلُ هُوَ ٱللَّهُ ٱلْمَوْصُوفُ بِصِفَاتِ ٱلْعَظَمَةِ وَٱلْجَلَالِ

 Al-Jalīl adalah Allah yang disifati dengan sifat-sifat kebesaran dan keagungan.

Sifat-sifat al-Jalāl (الجلال) antara lain:
الْمُلْكُ (kerajaan dan kekuasaan),
الْغِنَى (kekayaan),
الْقَهْرُ (keperkasaan yang menundukkan siapa pun),
serta الْمُنْتَقِمُ (Yang Maha Membalas dan menjatuhkan hukuman dengan keadilan-Nya).

Sedangkan kebalikannya adalah sifātul-jamāl (صفات الجمال) — sifat-sifat keindahan Allah — seperti:
الرَّحْمَةُ (kasih sayang),
الْعَفْوُ (pemaaf) dan
الْكَرَمُ (pemurah)

Sifat-sifat al-Jalāl (keagungan Allah) akan menimbulkan rasa takut (الخَوْف) dan takzīm (التعظيم — penghormatan) dalam hati seorang hamba, sedangkan sifat-sifat al-Jamāl (keindahan Allah) akan menumbuhkan harap (الرَّجَاء) dan cinta (المَحَبَّة) kepada Allah Swt. 

بِجَلَالِهِ يُعْطِي مَنْ يَشَاءُ، وَيَمْنَعُ مَنْ يَشَاءُ، وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَسْلُبَ نِعَمَهُ فِي سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ.

“Dengan keagungan-Nya, Allah memberi kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menahan (pemberian) dari siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Mahakuasa untuk mencabut nikmat-nikmat-Nya dalam sekejap mata.”

Allah dengan sifat al-Jalāl-Nya mampu membolak-balik keadaan manusia kapan saja, karena segala sesuatu berada sepenuhnya dalam genggaman dan kekuasaan-Nya.

Allah berfirman:

 تُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ

“Engkau (Allah) memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 26)

Hari ini seseorang bisa mulia, namun esok mungkin hina. Hari ini di istana, esok bisa berada di penjara — atau sebaliknya. Semua itu sangat mudah bagi Allah, karena Dialah Al-Jalīl

Demikian pula, Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Firman-Nya:

 فَيُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi hidayah [petunjuk] kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrāhīm [14]: 4)

Maka tidak heran bila Gus Miek berdoa agar ditetapkan iman dengan memohon kepada Nama Allah Al-Jalil :

 يَا جَلِيلُ بِجَلَالِكَ أَثْبِتِ الْإِيمَانَ

“Wahai Allah Yang Maha Agung dan Maha Besar, dengan keagungan-Mu, tetapkanlah iman di dalam hati kami.”

Orang yang benar-benar beriman kepada nama Allah Al-Jalīl (ٱلْجَلِيلُ) akan tumbuh dalam dirinya rasa takut yang mendalam kepada Allah, bukan semata-mata karena ancaman siksa atau neraka, tetapi karena kesadaran akan keagungan dan kebesaran-Nya.
Rasa takut seperti inilah yang  tinggi nilainya di sisi Allah, karena lahir dari pengenalan (ma‘rifah) terhadap kemuliaan dan keagungan Allah. 

Setetes air mata yang menetes karena takut kepada Allah lebih berharga daripada seluruh isi dunia, sebab air mata itu mampu memadamkan api neraka. Air mata seperti inilah yang mahal dan bernilai tinggi di sisi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ»

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah.” (HR. al-Tirmiżī)

إذا أَظْهَرَ الله عَلَىٰ عِبَادِهِ صِفَاتِ الْجَلَالِ فَخَافُوهُ وَهَابُوهُ، وَإذا أَظْهَرَ عَلَيْهِمْ صِفَاتِ الْجَمَالِ فَأَحَبُّوهُ وَرَجَوْا رَحْمَتَهُ

Ketika Allah menampakkan kepada hamba-hamba-Nya sifat-sifat Jalāl (keagungan dan kebesaran-Nya), hati mereka dipenuhi rasa takut, tunduk, dan takzim kepada-Nya. Namun ketika Allah menampakkan sifat-sifat Jamāl (keindahan dan kasih sayang-Nya), hati mereka dipenuhi rasa cinta dan harapan akan rahmat-Nya.

Kedua penampakan ini bukanlah untuk menakut-nakuti atau sekadar menenteramkan, tetapi sebagai dua sayap yang menuntun  hati manusia selalu hidup dan  bergetar oleh rasa takut dan cinta sekaligus — sehingga senantiasa dekat dan ingat kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Inilah keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan cinta (ḥubb) yang diajarkan oleh guru kita yang mulia. 

Hadirin yang dimuliakan Allah 

 عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ؟ قَالَ: "الَّذِينَ إِذَا رُؤُوا ذُكِرَ اللَّهُ"

Dari Ibnu ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā, ia berkata: Rasulullah ﷺ ditanya, “Wahai Rasulullah, siapakah para wali Allah itu?” Beliau menjawab: “(Mereka adalah) orang-orang yang apabila dilihat, maka orang yang melihatnya akan teringat kepada Allah.” (HR. Ibnu Mājah)

وصلى الله على سيدنا محمد و على أله وصحبه و سلم 

و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته





doa dari gus miek : 

يَا جَلِيلُ بِجَلَالِكَ أَثْبِتِ الْإِيمَانَ

“Wahai (Allah) Yang Maha Agung Maha Besar dengan keagungan-Mu dan Kebesaran-Mu, tetapkanlah iman.”(pada diri kami)

Sebagian ulama menerjemahkan Al-Jalīl (ٱلْجَلِيلُ) dengan Allah Yang Maha Besar. Namun, perlu dibedakan dengan nama Allah Al-Kabīr (ٱلْكَبِيْرُ), yang juga berarti Maha Besar.

Perbedaannya terletak pada sisi keagungan tersebut: Al-Kabīr menunjukkan kebesaran Allah pada Dzat-Nya, sedangkan Al-Jalīl menunjukkan kebesaran Allah pada sifat-sifat-Nya.

Itulah sebabnya dalam shalat kita mengucapkan “Allāhu Akbar (اللّٰهُ أَكْبَرُ)”, yang bermakna Allah Maha Besar pada Dzat-Nya. Hal ini karena dalam shalat kita sedang menghadap Dzat Allah, bukan sekadar sifat-sifat-Nya.

Sedangkan ketika kita menyebut nama-nama Allah dalam rangka dzikir atau memuji-Nya dengan Asmā’ul Ḥusnā, kita sering menambahkan kalimat “جَلَّ جَلَالُهُ” (Mahasuci Keagungan-Nya), sebagai bentuk pengagungan terhadap sifat-sifat keindahan dan keagungan Allah.

ٱلْجَلِيلُ هُوَ ٱللَّهُ ٱلْمَوْصُوفُ بِصِفَاتِ ٱلْعَظَمَةِ وَٱلْجَلَالِ

Al-Jalīl adalah Allah, yang disifati dengan kebesaran dan keagungan, seperti : الْمُلْكُ (kerajaan dan kekuasaan), الْغِنَى (kekayaan), الْعِزَّةُ (kemuliaan), الْقُدْرَةُ (kekuatan), الْقَهْرُ (keperkasaan yang dapat menundukkan siapa saja).

Kebalikan sifat Jalil adalah sifātul-jamāl (sifat keindahan Allah), seperti: الرَّحْمَةُ (kasih sayang), الْعَفْوُ (pemaaf), الْكَرَمُ (pemurah), الْحِلْمُ (penyantun), النُّصْرَةُ (pelindung).

hadirin yang dimuliakan Allah

وَمِنْ صِفَاتِ جَلَالِهِ تُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ

dengan sifat jalalnya Allah berhak memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki." (Āli ‘Imrān: 26)

  • Hari ini mulia bisa saja besok menjadi hina atau kebalikannya, hari ini hina bisa saja besok dimuliakan.

  • hari ini berkuasa bisa jadi besok dicabut kerajaannya oleh Allah esok hari.

  • hari ini di penjara, besok berada di istana atau sebaliknya.

Semua itu mudah bagi Allah, karena Dia adalah Al-Jalīl

Begitu juga Allah memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. 

فَيُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Ibrahim ayat 4.

Maka doa dari gus miek : 

يَا جَلِيلُ بِجَلَالِكَ أَثْبِتِ الْإِيمَانَ

“Wahai (Allah) Yang Maha Agung Maha Besar dengan keagungan-Mu dan Kebesaran-Mu, tetapkanlah iman.”(pada diri kami)

Jadi nama Allah Al-Jalīl ini termasuk nama yang menakutkan. Mengapa? Karena dengan kebesaran-Nya, Allah bisa membolak-balik keadaan manusia. Semua dalam genggaman Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Maka

المؤمن باسم الله الجليل يخشى الله.

Orang yang beriman dengan nama Allah Al-Jalīl (ٱلْجَلِيْلُ), yaitu Yang Maha Besar, akan tumbuh dalam dirinya rasa takut kepada Allah.

Takut karena keagungan dan kebesaran Allah (Al-Jalīl) lebih tinggi tingkatannya dibanding takut kepada Allah karena siksaan akan adzab dan neraka. 

Bahkan setetes air mata yang jatuh karena takut kepada Allah lebih berharga daripada dunia seisinya, karena air mata itu mampu memadamkan api neraka. Air mata itu mahal dan sangat berharga di sisi Allah Swt. Sebagaimana sabda  Rasulullah ﷺ :

«لَا يَلِجُ النَّارَ رَجُلٌ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ »

“Tidak akan masuk neraka seorang yang menangis karena takut kepada Allah, .” (HR. al-Tirmiżī)





































لأنه بجلاله يُعطي من يشاء، ويَمنع من يشاء، وهو قادرٌ على أن يَسلب نِعَمه في ساعةٍ واحدة.

“Karena dengan keagungan-Nya, Dia memberi kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menahan dari siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Mahakuasa untuk mencabut nikmat-Nya dalam sekejap mata.”

Salah satu sifat kebesaran Allah adalah  ilmu-Nya. (العلم)

وإنه عالِمٌ بأحوالِ العبدِ ظاهرًا وباطنًا.

“Dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui keadaan hamba, baik yang lahir maupun yang batin.”


Di antara sifat kebesaran Allah adalah Al-Ghaniyy (ٱلْغَنِيُّ) – Yang Maha Kaya.

Allah tidak membutuhkan ketaatan kita. Kalau seluruh makhluk di bumi ini durhaka, itu tidak mengurangi kebesaran-Nya sedikit pun. Kalau seluruh makhluk taat, itu pun tidak menambah kebesaran-Nya.

Berbeda dengan raja dunia akan jatuh jika rakyatnya tidak patuh. Tetapi Allah, berbeda dengan raja dunia. Dia Maha Kaya dan Maha Besar, tidak bergantung pada siapapun.

إِن تَكْفُرُوا أَنتُمْ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٞ
“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji, meskipun semua yang ada di bumi kafir.” (QS. Ibrāhīm: 8)

“Begitu pula, jika seluruh alam semesta ini taat dan bertakwa kepada Allah, hal itu sama sekali tidak menambah kebesaran Allah. Sebab, Allah sudah Maha Besar dan Maha Kaya.

Hakikatnya, ibadah dan ketaatan kita akan kembali kepada diri kita sendiri, kitalah yang memperoleh manfaatnya. Adapun ibadah kita tidaklah memberi pengaruh sedikit pun terhadap keagungan Allah.”

“Apabila Allah hanya memiliki sifat Jalāl (keagungan dan kebesaran), niscaya hidup kita di dunia ini tidak akan terasa nyaman dan lapang. Misalnya, kita hanya mengenal Allah sebagai Dzat Yang Maha Menyiksa dan sejenisnya. Namun, Allah juga memiliki nama-nama yang menunjukkan sifat Jamāl (keindahan), seperti Maha Pemaaf, Maha Pelindung, dan lain-lain.

Karena itulah, hidup seorang mukmin selalu berada di antara rasa takut (khauf) kepada Allah dan harapan (rajā’) serta cinta kepada-Nya. Sebab Allah memiliki nama-nama yang agung sekaligus indah.”

المؤمن باسم الله الجليل يخشى الله.

Jadi beriman kepada Nama Allah Al-Jalil membuahkan rasa takut kepada Allah.




5. Macam-macam Tangisan

Para ulama menyebutkan 10 macam tangisan:

  1. بُكَاءُ الْخَشْيَة – tangisan karena takut kepada Allah. Inilah yang paling mulia.

  2. بُكَاءُ الرَّحْمَة – tangisan kasih sayang, seperti tangisan Rasulullah ﷺ saat menggendong putranya, Ibrāhīm, yang wafat ketika masih bayi.

  3. بُكَاءُ الْمَحَبَّة وَالشَّوْق – tangisan karena cinta dan rindu, misalnya rindu kepada Rasulullah ﷺ atau orang-orang shalih.

  4. بُكَاءُ الْفَرَح – tangisan karena kegembiraan dalam ketaatan, misalnya orang yang berhasil menghafal Al-Qur’an.

  5. بُكَاءُ الْأَلَم – tangisan karena sakit.

  6. بُكَاءُ الْحُزْن عَلَى الْفَقْد – tangisan karena kehilangan, misalnya ditinggal mati orang tercinta.

  7. بُكَاءُ الْعَجْز – tangisan kelemahan setelah berusaha keras namun gagal.

  8. بُكَاءُ النِّفَاق – tangisan orang munafik (air mata buaya).

  9. بُكَاءُ التَّمْثِيل – tangisan pura-pura, seperti dalam sandiwara atau film.

  10. بُكَاءُ الْمُجَامَلَة – tangisan ikut-ikutan karena suasana.

Dari sekian macam tangisan ini, yang paling mulia di sisi Allah adalah tangisan karena takut kepada-Nya. Rasa takut itu menjaga dari maksiat, melahirkan ibadah yang ikhlas, dan menghasilkan tangisan yang bernilai tinggi di sisi Allah.

فَإِيَّـٰىَ فَٱرْهَبُونِ
“Maka hanya kepada-Ku sajalah kalian harus takut.”
(QS. An-Naḥl: 51)

Allah berfirman:

فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ
“Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Māidah: 44)


Tangisan ini lahir dari penyesalan:

  • Mengingat dosa-dosa masa lalu.

  • Menyadari nikmat Allah yang dibalas dengan maksiat.

  • Lalu hati menyesal, lidah beristighfar, dan mata mengalirkan air mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Bersyukur

ILMU SHALAWAT

TAWASUL