أَنْزِلِ الْمِنَن
رَبَّنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ أَنْزِلِ الْمِنَن
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ. الحمدُ للهِ الَّذي يَمُنُّ على مَن يَشاءُ مِنْ عِبادِهِ بِفُيُوضاتِ رَحْمَتِهِ، ويُنَزِّلُ على القلوبِ أنوارَ المِنَنِ ولطائفَ عَطائِهِ، نحمدُه سبحانه على ما أسبغَ علينا من نِعَمِهِ، ونُصلِّي ونُسلِّمُ على سيِّدِنا محمّدٍ، عبدِهِ ورسولِهِ، اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ عليهِ، وعلى آلهِ وصحبِهِ أمّا بعدُ :
Yang kami hormati, guru tercinta, murabbī rūḥinā — Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah. Semoga Allah panjangkan umurnya dalam sehat walafiyat.
Kita semua yang hadir dalam majelis ini, mendapatkan limpahan ilmu dan keberkahan dari guru kita yang mulia. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
Yang kami cintai dan muliakan: Gus Lubbi, Gus Tomy, Gus Ryan, Gus Najib, Gus Ade, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.
Guru kita pernah berpesan… Ketika membaca doa karya Gus Miek, jagalah kekhusyukan, hadirkan hati, dan tundukkan adab di hadapan Allah. Sebab doa ini bukan sekadar rangkaian kata, bukan sekadar bacaan yang diulang, tetapi harapan dari seorang kekasih Allah, yang hatinya penuh dengan rindu dan cinta kepada-Nya. Salah satu doanya;
رَبَّنَا خَيْرَ الْمُنْزِلِينَ أَنْزِلِ الْمِنَن
رَبَّنَا — “Wahai Tuhan kami”, Dzat yang mencipta, memelihara, dan membimbing setiap langkah.
خَيْرَ الْمُنْزِلِينَ — “Sebaik-baik Dzat yang menurunkan”
أَنْزِلِ الْمِنَن — “Turunkanlah Minnah-Mu.”
Gus Miek terinspirasi dari firman Allah Swt, yaitu Ketika kapal Nabi Nuh ‘alaihissalām berhenti di atas Bukit dan air mulai surut, Allah berfirman:
قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ
“Dikatakan: Wahai Nuh, turunlah dengan keselamatan dari Kami dan keberkahan atasmu.” (QS. Hūd [11]: 48). Lalu Nabi Nuh berdoa :
رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ
“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menurunkan.” (QS. Al-Mu’minūn [23]: 29
Menurunkan apa? Lalu Gus Miek melanjutkan doanya :
أَنْزِلِ الْمِنَن
“Ya Allah, turunkanlah minan, turunkah karunia dan anugerah-Mu.”
Hadirin yang dimuliakan Allah Swt
Anugrah Allah atau “المنن” (al-minan) ada dua :
المنن الظاهرة — Anugerah lahiriah seperti rezeki dan kesehatan
المنن الباطنة — Anugerah batiniah berupa الواردات الإلاهية Al-Warid Ilahi atau nur cahaya Ilahi.
Imam al-Qusyairī menjelaskan bahwa:
“المنن هي واردات الحق إلى القلوب، لا تُكتسب بالأعمال ولكن تُمنح بالفضل.”
“Minan itu adalah warid-warid Ilahi (cahaya cahaya ilahi) yang masuk ke dalam hati. Ia tidak diperoleh dengan amal, tetapi semata mata karena anugerah/ pemberian dari Allah swt.”
Ibn ‘Aṭā’illah As-Sakandarī raḥimahullāh berkata:
إِنَّمَا أَوْرَدَ عَلَيْكَ الْوَارِدَ لِتَكُونَ بِهِ عَلَيْهِ وَارِدًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah menurunkan kepadamu (warid) agar dengan cahaya itu engkau datang menghadap kepada-Nya.”
Hadirin yang dimuliakan Allah Swt
Ada beberapa sebab orang mendapatkan cahaya ilahi tersebut :
وَذَٰلِكَ بِسَبَبِ الذُّرِّيَّةِ الطَّيِّبَةِ
Keturunan orang baik
“Adakalanya sebab seseorang mendapatkan cahaya ilahi adalah karena ia keturunan orang baik (min zurriyyah ṭayyibah).”
Mungkin ayah, ibu, atau leluhurnya dahulu orang saleh, orang yang dekat kepada Allah, seorang wali, atau hamba yang selalu berdoa untuk anak cucunya. Maka doa dan keberkahan dari keturunan yang saleh itu menjadi sebab Allah memberikan cahaya ilahi.
Seperti disebutkan dalam kisah Surat Al-Kahfi (18:82) , Allah menjaga anak yatim karena orang tuanya adalah orang saleh. وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا “Dan ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh.”
Maka bisa jadi, cucu atau buyut yang dulunya jauh dari Allah, akhirnya diberi cahaya ilahi — berkat doa dan keberkahan nenek moyangnya yang saleh. Ia pun kembali taat, patuh, dan tunduk kepada Allah setelah lama berpaling.
Orang yang pemurah
Kadang seseorang tidak banyak beribadah, tetapi ia sangat pemurah. Walau dosanya banyak, tetapi karena kemurahan hatinya itu, bisa jadi nanti Allah akan memberi cahaya-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
تَجَاوَزُوا عَنْ ذَنْبِ السَّخِيِّ، فَإِنَّ اللهَ أَخَذَ بِيَدِهِ كُلَّمَا عَثَرَ
Artinya, “Maafkanlah (bersikaplah toleran terhadap) dosa orang yang dermawan, karena sesungguhnya Allah memegang tangannya setiap kali ia terjatuh.”
3. Cinta kepada Orang Saleh
Ada pula orang yang perbuatannya buruk, ibadahnya kurang, tetapi dalam hatinya ada cinta kepada orang-orang saleh (ḥubbus ṣāliḥīn).
Cintanya kepada orang saleh inilah yang mengundang Cahaya ilahi. Dari kecintaannya itu, Allah menurunkan cahaya yang menuntun hatinya kembali kepada-Nya.
4. Berkat Ilmu
Ada pula yang mendapat Cahaya Ilahi karena ilmunya. Mungkin dulu pernah mengaji, menuntut ilmu, di pesantren, walau sempat lalai dan tak mengamalkan ilmunya. Namun ilmu itu tetap menjadi sebab Allah memberi cahaya petunjuk kepadanya.
وَقَدْ ذَكَرَ البَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ مِنْ حَدِيثِ كَثِيرٍ هَذَا، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ مَرْفُوعًا: «اتَّقُوا زَلَّةَ العَالِمِ، وَانْتَظِرُوا فَيْئَتَهُ»
‘Berhati-hatilah kalian terhadap tergelincirnya seorang ulama, dan tunggulah hingga ia kembali (kepada kebenaran).’”
Artinya, jika orang ulama tergelincir dalam dosa, jangan mencelanya — karena berkat ilmunya, Allah mudah mengembalikannya ke jalan yang benar.
5. Doa Orang Saleh
Kadang seseorang mendapat Cahaya ilahi karena doa orang saleh yang mendoakannya. Mungkin ia sendiri banyak maksiat, tetapi ada orang tua, guru, wali Allah yang berdoa untuknya. Maka doa itulah yang menjadi jalan turunnya cahaya ilahi kepadanya.
6. Musibah
Kadang juga, Minnah dari Allah datang melalui musibah. Seseorang diuji: hartanya habis, kesehatannya terganggu. Lalu dari situlah ia sadar, menangis, dan kembali kepada Allah.
Dengan cahaya ilahi tersebut seseorang yang jauh menjadi dekat, yang tadinya maksiat menjadi taat, dan yang tadinya lalai menjadi ingat kepada Allah.
Setelah seseorang menerima Nurul Bidayah, Allah memberi cahaya yang kedua, yaitu Nurul Wasathiyyah yang menjadikanmu sibuk dengan dzikir, amal saleh, dan cinta kepada Allah.
KemudianAllah memberi cahaya ketiga — yaitu Nurun Nihayah. Inilah cahaya tertinggi, di mana seorang hamba hidup dalam menyaksikan kehadiran Allah dalam segala hal. Dan semua ini adalah minnah minallah, karena Allah cinta kepadanya.
Maka dalam doa ini “رَبَّنَا خَيْر الْمُنْزِلِينَ أَنْزِلِ الْمِنَن” seolah olah kita ingin mengatakan;
ya Allah kami hamba-Mu yang lalai (من الغافلين), kami ingin kembali kepada-Mu. tempatkanlah kami ditempat yang yang engkau berkahi.
Ya Allah, (انزل المنن) limpahkanlah karunia-Mu, baik lahir maupun batin.
Berikanlah kami… Nurul Bidayah – cahaya pertama yang membangunkan hamba dari kelalaian.
Berikanlah kami… Nurul Wasathiyyah – cahaya kedua yang membuat hamba sibuk beribadah dan berzikir.
dan berikanlah kami… Nurun Nihayah – cahaya ketiga yang menjadikan hamba senantiasa menyaksikan Engkau dalam setiap keadaan.
Agar hamba kembali Engkau pandang dan kembali Engkau cintai.
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين و الحمد لله رب العالمين و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Komentar
Posting Komentar