رَبَّنَا أَحْسِنْ لَنَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

 

رَبَّنَا أَحْسِنْ لَنَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْيَقِينَ نُورًا فِي الْقُلُوبِ، وَبِهِ تَطْمَئِنُّ النُّفُوسُ، وَتَسْتَقِيمُ الْأَعْمَالُ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ :
اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يَقُولُونَ فَيَفْعَلُونَ، وَمِنَ الَّذِينَ يَفْعَلُونَ فَيُخْلِصُونَ، وَمِنَ الَّذِينَ يُخْلِصُونَ فَيُقْبَلُونَ.

Yang kami hormati, guru tercinta, murabbī rūḥinā, Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah. Semoga Allah senantiasa memanjangkan umur beliau dalam keadaan sehat wal afiat.

Dan kita semua yang hadir di majelis yang mulia ini, semoga senantiasa mendapatkan limpahan ilmu, cahaya hidayah, serta keberkahan dari guru kita yang mulia. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.

Yang kami cintai dan muliakan: Gus Lubbi, Gus Tomy, Gus Ryan, Gus Najib, Gus Ade, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Lanjutan doa Sulṭānul Awliyā’, KH. Hamim Jazuli (Gus Miek)

رَبَّنَا أَحْسِنْ لَنَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
“Ya Allah, perbaikilah lahir dan batin kami.”

Doa ini  mengajarkan agar kita menempuh dua jalan sekaligus:

  1. Iṣlāḥuẓ-ẓāhir → memperbaiki amal lahir.

  2. Iṣlāḥul-bāṭin → memperbaiki amal bathin.

 “رَبَّنَا” “Ya Tuhan kami.”
Seakan kita berdoa, “Aku menyerahkan seluruh proses perbaikanku kepada-Mu, ya Rabb.

“أَحْسِنْ لَنَا” adalah: “Perbaikilah  kami.”
Kata aḥsin berasal dari akar kata ḥusn yang berarti kebaikan dan keindahan. Ini bukan sekadar permohonan agar diperbaiki, tetapi agar diperindah, diperelok, dan dimuliakan.

“ظَاهِرًا وَبَاطِنًا” lahir dan batin.

  • Ẓāhir melambangkan tubuh dan perbuatan.

  • Bāṭin melambangkan ruh, qolbu dan niat.

Imam al-Ghazali berkata:

اَلظَّاهِرُ بِغَيْرِ بَاطِنٍ لَا ثَمَرَةَ لَهُ، وَالْبَاطِنُ بِغَيْرِ ظَاهِرٍ دَعْوَى لَا حَقِيقَةَ لَهَا.

“Amal zahir tanpa batin tidak berbuah. Amal Batin tanpa amal zahir hanyalah pengakuan atau khayalan tanpa bukti.”

Salah satu amal batin adalah keimanan dan keyakinan kita kepada Allah Swt. 

Allah berfirman: 

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.“ (Al Mujadilah : 11)

Allah akan meninggikan derajat jika seseorang memiliki iman dan ilmu sekaligus, keduanya harus berjalan beriringan.

“Iman tanpa ilmu melahirkan kesesatan, dan ilmu tanpa iman menimbulkan kerusakan.”

Guru kita (gus Arif) pernah bercerita; 

Pada suatu masa, hiduplah seorang guru yang mengajarkan ilmu Bismillah kepada murid-muridnya. Sang guru berkata, “Jika kalian mengamalkan ilmu Bismillah ini, kalian bisa berjalan di atas air, dan Allah akan membukakan pintu-pintu pertolongan-Nya, asalkan diamalkan dengan hati yang ikhlas, penuh keimanan dan keyakinan.”

Setiap beliau mengajar, murid-murid duduk di hadapannya. Mereka mendengar, mengangguk, tetapi tidak ada yang sungguh-sungguh mengamalkan.

Namun ada satu murid yang berbeda — seorang murid misterius. Ia tidak pernah duduk di majelis. Ia hanya mengintip dari luar, dari celah pintu dan jendela. Mungkin karena malu, minder, atau terlalu miskin untuk membayar iuran. Tetapi satu hal yang pasti: walaupun hanya mengintip, ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan menyimpan setiap kalimat gurunya di dalam hati.

Kemudian, murid-murid yang duduk di majelis pulang seperti biasa — tanpa amal. Sedangkan murid pengintip itu pulang ke gubuknya dan diam-diam mengamalkan.

Suatu hari, murid itu ingin mengadakan acara kecil di rumahnya. Ia datang menemui guru tersebut dan berkata,
“Pak Guru, besok datanglah ke gubuk saya. Ajak semua murid. Saya sudah menyiapkan makanan.” Sang guru heran, “Lho, kamu memang sanggup menyediakan makanan untuk semua muridku?” 

Ia menjawab dengan tenang,  “InsyaAllah cukup, Guru. Bukankah Guru yang mengatakan bahwa jika ikhlas dan yakin, Allah pasti mencukupkan?” Guru pun hanya mengangguk, meskipun di dalam hatinya masih ada keraguan.

Rumah murid itu berada di seberang sungai, yang biasanya diseberangi dengan perahu. 

Pada hari yang ditentukan, guru dan para murid berjalan menuju tepi sungai.

Murid itu berkata,  “Ayo Guru, kita berjalan lewat atas air. Bukankah Guru yang mengajarkan begitu?” Guru terkejut, karena ia sendiri belum pernah mempraktekkannya. Namun murid itu berdiri, menarik napas, lalu membaca dengan penuh keyakinan dan mengucap “Bismillāhirraḥmānirraḥīm…”

Ia pun melangkah dan subḥānallāh, ia benar-benar berjalan di atas air seolah berjalan di atas tanah. Guru terpaku. Murid-murid pun melongo. Akhirnya guru dan murid-murid menyeberang dengan berpegangan pada murid pengintip tersebut. 

Sesampainya di gubuk kecil, guru melihat hanya ada seekor ayam dan sebakul nasi kecil.

Guru berkata,  “Lho, cuma ini? Apa cukup untuk semua muridku?”

Murid itu tersenyum, “InsyaAllah cukup, Guru. Dengan mengucap Bismillah, Allah yang mencukupkan.”

Ketika nasi disendok, subḥānallāh, nasi itu tidak berkurang. Ayam pun tidak habis. Setiap kali diambil, selalu kembali seperti semula, hingga semua orang kenyang, dan nasi tetap utuh.

Sejak kejadian itu, guru pulang dengan hati yang gundah. Ia membuka kembali kitab-kitabnya dan mulai benar-benar ingin mempraktekkan ilmu Bismillah tersebut.

Beberapa minggu kemudian, ia ingin mencoba berjalan di atas air. Tetapi alih-alih pergi ke sungai, ia justru menggali kolam kecil di dalam rumahnya. Istri dan anak-anaknya pun heran.

Lalu sang Guru memakai jubahnya, membaca Bismillah, dan melangkah ke atas air kolam, namun ia tenggelam dan terus tenggelam. 

Sebab ia tidak yakin. Sedangkan muridnya dahulu melangkah tanpa ragu, tanpa uji coba, tanpa kolam buatan, tanpa perhitungan — karena yakin sepenuhnya kepada Allah.

Ini contoh guru ilmu zahir yang belum sampai padanya ilmu batin.  Karen ilmu tanpa iman dan yakin hanya akan menjadi teori semata.

Inilah rahasia amal hati. Walaupun tidak tampak oleh mata, nilainya bisa jauh lebih besar dibandingkan amal zahir seperti shalat dan puasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَوْ وُضِعَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ فِي كِفَّةٍ، وَإِيمَانُ أُمَّتِي فِي كِفَّةٍ، لَرَجَحَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ.

“Seandainya iman Abu Bakr aṣ-Ṣiddīq diletakkan di satu daun timbangan, dan iman seluruh umatku diletakkan di daun timbangan yang lain, niscaya iman Abu Bakar lebih berat. 

Lalu Nabi ﷺ menjelaskan rahasianya:

 مَا فَضَلَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ عَلَيْكُمْ بِكَثْرَةِ صَلَاةٍ وَلَا صِيَامٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي قَلْبِهِ

Tidaklah Abu Bakar melebihi kalian karena banyaknya shalat dan puasa, tetapi karena sesuatu yang tertanam kuat dalam hatinya.”

Keunggulan Abu Bakr aṣ-Ṣiddīq bukan semata-mata karena banyaknya ibadah lahiriah seperti shalat dan puasa, melainkan karena kualitas amal batin berupa keimanan dan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.  

نَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يُحْسِنَ أَحْوَالَنَا كُلَّهَا، مَا ظَهَرَ وَمَا بَطَنَ 

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Bersyukur

ILMU SHALAWAT

TAWASUL