ilmu bismillah
KISAH MURID YANG MENGAMALKAN ILMU BISMILLAH
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang guru yang terkenal mengajarkan ilmu Bismillah. Ilmu ini sederhana di ucapan, tetapi berat dalam pengamalan. Kata sang guru, “Kalau seseorang hatinya mantap, ikhlas, dan yakin, maka ilmu itu akan masuk dan berbuah.”
Setiap ia mengajar, murid-muridnya duduk di hadapannya. Mereka mendengarkan, tetapi—jujur saja—hampir tak ada yang benar-benar mengamalkan dengan sungguh-sungguh.
Namun, ada seorang murid misterius. Ia tidak pernah ikut duduk di majelis. Ia hanya mengintip dari luar, dari balik pintu atau celah dinding. Entah karena malu, atau mungkin dulu belajar di majelis itu harus bayar dan ia tak punya uang—tak ada yang tahu pasti. Yang jelas, ia hanya mengintip… tetapi setiap kalimat guru ia simpan dalam-dalam.
Suatu hari, sang guru menjelaskan:
“Barang siapa ingin diberi kemudahan, ingin kuat hatinya, ingin ditolong Allah… amalkan Bismillahirrahmanirrahim setiap hari. Puasakan lidahmu dengan Bismillah. Biasakan membaca Bismillah sebelum masuk masjid, terutama hari Jum’at. Bahkan jika kalian mau berjalan di atas air, kuncinya tetap: Bismillah, disertai hati yang ikhlas.”
Murid-murid yang duduk di depan guru hanya mengangguk-angguk… tapi tetap saja tidak mengamalkan.
Si pengintip ini berbeda. Ia pulang ke rumahnya, diam-diam mengamalkan sungguh-sungguh. Hari demi hari, ia menjaga hati, menjaga lisan, memperbanyak Bismillah dengan penuh keyakinan.
Suatu ketika…
Si murid pengintip ini hendak mengadakan acara—semacam khataman atau hajatan kecil. Karena begitu cintanya kepada sang guru, ia berkata:
“Pak guru, besok datanglah ke rumah saya. Dan ajak semua murid, saya sudah siapkan makanannya.”
Guru heran, sebab ia tahu orang ini bukan murid resmi, bahkan hidupnya melarat.
“Apa kamu sudah siap benar? Santri saya itu banyak. Masakannya harus cukup.”
“Saya sudah siapkan, Pak Guru,” jawabnya mantap.
Guru mengangguk. “Baiklah.”
Rumah murid itu terletak di seberang kali, dan biasanya orang menyeberang dengan perahu. Namun murid itu berkata:
“Pak guru, bukankah dulu guru bilang, kalau hati ikhlas dan yakin, Allah akan cukupkan? Termasuk perjalanan?”
Guru mulai merasa tidak enak, tetapi ia mencoba menjaga wibawa.
Tibalah hari itu…
Guru berjalan bersama murid-muridnya menuju rumah si pengintip. Ketika sampai di pinggir kali, murid itu berkata:
“Ayo, Pak Guru. Kita jalan saja lewat atas air. Kan guru yang bilang begitu.”
Guru terkejut. Ia sendiri belum pernah mengamalkan sedalam itu. Tapi murid di sampingnya—yang justru bukan murid resmi—langsung melangkah. Dengan tenang ia membaca:
“Bismillahirrahmanirrahim…”
Lalu ia melangkah di atas air, dan… subhaanallah… ia benar-benar berjalan di atas permukaan air dengan yakin!
Guru terdiam. Murid-murid ternganga.
Sang guru mencoba mengangkat kaki… tapi air tetap air. Tidak terjadi apa-apa. Saat itu ia sadar:
“Astaghfirullah… ternyata murid yang hanya mengintip… justru lebih mengamalkan daripada aku yang mengajar.”
Guru akhirnya meminta murid-murid mencari perahu. Sementara murid pengintip itu sudah tiba di seberang dan menunggu.
Setelah semua tiba, murid itu mencium tangan gurunya dan berkata:
“Maafkan saya, Pak Guru. Saya hanya mengamalkan apa yang guru ajarkan.”
Guru pun berlinang air mata. Ia memeluk murid itu dan berkata:
“Engkau benar. Ilmu tanpa amal hanya menjadi cerita. Tetapi ketika diamalkan dengan hati yang ikhlas… Allah sendiri yang mengajarkan.”
kalau pak guru bennar2 datang ke gubuk saya ayo pegangan saya dan murid murid yang lain pegangan saya jadi kaya naik kereta berjalan di atas air
gurunya malu malu bertanya, memangnya apa yang kau amalkan, saya kan mengamalkan bismillah yang saya dengar dari guru.
terus pas sampai gubuknya cuma motong ayam 1 dan sebakul nasi kecil. terus gurunya bertamya, kok cuma segini apakah cukup dengan murid saya yang banyak
terus kata muridnya, insya allah guru dengan mengucap bismillah insya allah cukup semua yang hadir.
terus benar ketika di bagikan lauk pauk dan nasi nya tidak berubah setiap di sendok kembali sedia kala. akhirnya sudah selesai semua nasi masih utuhj.
maka guru di sini guru kitab, belum tentu diamalin walaupun ia tau cara dan ilmunya,.
pas pulang gurunya buka lagi kitabnya, karena muridnya sudah jadi, maka dia amalin dia puasain, terus dia mau praktekin dengan bantuan istrinya di gali lobang kolam di rumahnya terus ia mau praktekin berjalan di atas air. anak istrinya heran apa yang mau dilaukan suamuinya.
maka guru sudah siap berjubah, membaca bismillah sudah mau nyebrang ternyata nga berhasil karena yang ia belum punya adalah ilmu yaqin. si gruu nga yaqin, kalau yaqin ia nga usah gali kolam, prtaktek aja di suangai dan lautan.
ilmu kalau tidak yaqin maka seperti itu, si murid biasa saja tapi yaqin maka dia berhasil, tapi si guru paham kitab dan banyak ilmu dan tidak punya ilmu yaqin maka tidak berhasil.
dengan ilmu basmalah, minta apa saja di cukupi oleh allah swt. belum lagi ilmu fatihah, ilmu shalawat.
maka tumbuhkan keyaqinan, ahqaqatal iman, la maujuda illa allah, la narju ghairullah.
hari ke hari minggu ke minggu naikin ke yakinan kepada allah, kalau turun maka gagal.
kalau gus arif bukan guru kitab seperti itu. maka kaya kyai ustman alishaki mursyid thoriqoh naqsabandiyah jawa timur mengajarkan ilmu “mantab mlebu” kalau gus arif bilang “amalin yaqinin” hsunu dzan kepada allah swt.
Komentar
Posting Komentar