Pangeran Panjenengan Dandosi Kulo Niki, Lahir Batin Sarano Manah Sae Kang Suci.

 Pangeran Panjenengan Dandosi Kulo Niki,

Lahir Batin Sarano Manah Sae Kang Suci.

بِسْمِ الله الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

الحمدُ للهِ الذي أنارَ القلوبَ بنورِ معرفتِهِ، وطهَّرَ الأرواحَ بماءِ رحمتِهِ، والصلاةُ والسلامُ على سيدِنا محمدٍ وعلى آله وصحبِه، أَمَّا بَعْدُ :  اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الَّذِينَ يَقُولُونَ يَفْعَلُونَ، وَمِنَ الَّذِينَ يَفْعَلُونَ يُخْلِصُونَ، وَمِنَ الَّذِينَ يُخْلِصُونَ يُقْبَلُونَ.

Yang kami hormati, guru tercinta, murabbī rūḥinā, Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah. Semoga Allah panjangkan umur beliau dalam sehat wal afiat.

Dan kita semua yang hadir di majelis yang mulia ini, semoga senantiasa mendapatkan limpahan ilmu, akhlak serta keberkahan dari guru kita yang mulia. Āmīn yā Rabbal ‘Ālamīn.

Yang kami cintai: Gus Lubbi, Gus Tomy, Gus Ryan, Gus Najib, Gus Ade, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Berikut ini lanjutan doa Sulṭānul Awliyā’ fi Indonesia, KH. Hamim Jazuli (Gus Miek)

Pangeran Panjenengan Dandosi Kulo Niki, Lahir Batin Sarano Manah Sae Kang Suci. Yang artinya : 

سَيِّدِي وَمَوْلَايَ، أُسَلِّمُ نَفْسِي هٰذِهِ إِلَيْكَ،
ظَاهِرًا وَبَاطِنًا، بِقَلْبٍ طَيِّبٍ نَقِيٍّ طَاهِرٍ.

Wahai Tuhanku, aku serahkan diriku ini kepada-Mu, lahir dan batin, dengan hati yang baik, bersih, dan suci.

Hadirin yang dimuliakan Allah,
Doa Gus Miek dalam bahasa jawa ini sesungguhnya merangkum jalan suluk secara ringkas.

Di dalamnya terdapat ajaran tentang penyerahan diri secara total kepada Allah, atau yang dalam istilah tasawuf dikenal dengan taslīm dan tafwīḍ. Seorang hamba tidak lagi bergantung pada kekuatan dirinya, tetapi sepenuhnya bersandar kepada kehendak Allah.

Doa ini juga mengajarkan keselarasan antara lahir dan batin, antara syariat dan hakikat. Amal dzahir dijaga dengan ketaatan, sementara batin dibersihkan dari berbagai penyakit hati, sehingga keduanya berjalan seiring dan saling menguatkan.

Lebih dari itu, doa ini menekankan pentingnya penyucian hati sebagai sarana untuk menerima cahaya Ilahi. Sebab, hati yang bersihlah yang layak menjadi tempat turunnya ketenangan, petunjuk, dan ma‘rifat dari Allah.

Dengan kata lain, doa ini merupakan doa seorang salik yang ingin keluar dari dominasi ego, hidup sepenuhnya untuk Allah, dan berjalan menuju ma‘rifatullah dengan hati yang bersih dan tunduk kepada-Nya.

«إِذَا طَهُرَتِ الْقُلُوبُ جَالَتْ فِيهَا أَنْوَارُ الْغُيُوبِ»

 “Apabila hati telah suci, maka rahasia cahaya ghaib akan tampak di dalamnya.”


Bulan Rajab dikenal sebagai bulan takhallī, bulan Sya‘bān sebagai bulan taḥallī, dan bulan Ramaḍān sebagai bulan tajallī.

Takhallī bermakna melepaskan dan membersihkan diri. Oleh karena itu, bulan Rajab dipahami sebagai bulan pembersihan jiwa, bulan taubat dan istigfar. Yang kita bersihkan bukan hanya dosa-dosa lahiriah, tetapi juga dosa-dosa batiniah yang sering kali tersembunyi di dalam hati.

Bulan Rajab ibarat mengosongkan dan membersihkan gelas yang kotor. Sebab, gelas yang masih kotor tidak pantas untuk diisi. Setelah dibersihkan, barulah ia layak menerima isi yang jernih.

Guru kita senantiasa berpesan agar kita, sebagai murid-muridnya, benar-benar fokus menyambut datangnya Lailatul Qadar sejak bulan Rajab ini. Oleh karena itu, permohonan kita jangan ke mana-mana terlebih dahulu. Kita pusatkan satu permintaan besar: “Ya Allah, pertemukan kami dengan Lailatul Qadar.”

Adapun seluruh hajat, doa, dan keinginan kita yang banyak, semuanya akan kita panjatkan pada malam Lailatul Qadar kelak.

Setelah jiwa kita dibersihkan pada bulan Rajab, maka kita memasuki bulan Sya‘bān, yaitu bulan taḥallī, yang bermakna menghiasi diri dengan berbagai kebaikan. Bulan Sya‘bān ibarat mengisi gelas yang telah dibersihkan dengan air yang jernih dan harum. Pada bulan inilah diri kita dihiasi dengan amal-amal saleh, dan tidak ada keharuman yang paling utama selain shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Kemudian tibalah bulan Ramaḍān, bulan tajallī. Tajallī berarti tersingkap dan memancarnya cahaya Allah di dalam hati. Pada saat itulah muncul ketenangan batin, kelezatan iman, ibadah terasa ringan dan penuh kenikmatan. Namun, semua itu tidak datang secara instan. Ia merupakan buah dari proses panjang pembinaan jiwa yang dimulai sejak bulan Rajab.

Bahkan guru kita berpesan kepada saya dan kepada kita semua agar kembali menekankan tiga amalan utama yang senantiasa diajarkan oleh guru kita yang mulia sebagai jalan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Amalan yang pertama adalah memperbanyak zikir. Zikir harian kita ialah membaca 1.000 kali Surat Al-Fātiḥah dan 10.000 kali shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ. Adapun zikir bulanan adalah dengan istiqamah menghadiri Khatmul Al-Qur’an dan Zikrul Ghāfilīn.

Amalan yang kedua adalah memperbanyak sedekah. Sedekah harian yang utama dikeluarkan pada waktu dhuha, sedekah mingguan pada hari Jumat, sedekah bulanan pada hari-hari Ayyāmul Bīḍ, dan sedekah tahunan dilaksanakan pada malam Lailatul Qadar.

Adapun amalan yang ketiga adalah menyenangkan guru dan kedua orang tua. Minimal, setiap kali kita bangun tidur di pagi hari, kita niatkan dalam hati untuk menghadiahkan pahala ibadah yang kita lakukan pada hari tersebut kepada guru dan kedua orang tua kita.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita taufik dan inayah-Nya, sehingga kita mampu mengamalkan seluruh amalan ini dengan istiqamah, serta Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

ILMU SHALAWAT

TAWASUL

CINTA NABI