يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ يَا اللّٰهُ
بِسْمِ الله الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي يَحْفَظُ مَنْ يَشَاءُ، وَيَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ، وَهُوَ خَيْرُ مَلْجَإٍ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، جَاءَ بِالنُّورِ وَالضِّيَاءِ، صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَاءِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا دَائِمًا إِلَى يَوْمِ الْجَزَاءِ. أَمَّا بَعْدُ.
Yang kami hormati, guru tercinta, murabbī rūḥinā, Ayahanda KH. Syamsul Ma’arif Hamzah. Semoga Allah panjangkan umurnya dalam sehat wal afiat dan keberkahan, dan kita semua yang hadir di majelis yang mulia ini, juga mendapatkan limpahan keberkahan tersebut. Amin ya Rabbal Alamin..
Yang kami cintai: Gus Lubbi, Gus Tomy, Gus Ryan, Gus Najib, Gus Ade, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah.
Lanjutan doa Sulṭānul Awliyā’ fī Indonesia, KH. Hamim Jazuli (Gus Miek) sebagai berikut:
يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ يَا اللّٰهُ
بَارِكْ لَنَا وَلَهُمْ أَجْمَعِيْنَ يَا اللّٰهُ
"Wahai Dzat Yang Maha Menjaga, Wahai Dzat Yang Maha Menolong, Wahai Dzat Yang Maha Mengurus segala urusan. Limpahkanlah keberkahan kepada kami dan kepada mereka semua, ya Allah."
Doa ini tampak sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar tentang jalan menuju keberkahan.
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir setiap orang mendambakan keberkahan. Ketika seseorang memulai usaha, yang diharapkan bukan sekadar keuntungan, tetapi keberkahan. Ketika sebuah keluarga dibangun melalui pernikahan, yang dipanjatkan adalah harapan agar rumah tangga dipenuhi keberkahan. Ketika seorang anak berangkat menuntut ilmu, doa orang tuanya bukan hanya agar ia pandai, tetapi agar ilmunya menjadi ilmu yang manfaat dan berkah.
Doa ini tidak langsung memohon keberkahan, tetapi diawali dengan memanggil Allah melalui tiga nama-Nya yang agung: Al-Ḥafīẓ, An-Naṣīr, dan Al-Wakīl. Sebab keberkahan lahir dari penjagaan Allah, pertolongan Allah, dan pengaturan Allah terhadap kehidupan hamba-Nya.
Perhatikan susunan yang sangat indah dalam doa tersebut:
حَفِيْظٌ ← نَصِيْرٌ ← وَكِيْلٌ ← بَرَكَةٌ
Pertama, Yā Ḥafīẓ, "Wahai Dzat Yang Maha Menjaga."
Manusia selalu membutuhkan penjagaan, baik untuk harta, keluarga, kesehatan, maupun iman. Karena itu, ketika memanggil Yā Ḥafīẓ, seorang hamba memohon agar Allah menjaga hati, iman, keluarga, dan seluruh perjalanan hidupnya agar tetap berada di jalan yang diridhai-Nya.
Kedua, Yā Nāṣir, "Wahai Dzat Yang Maha Menolong."
Setelah memohon penjagaan, seorang hamba memohon pertolongan Allah untuk menghadapi hawa nafsu, godaan setan, dan berbagai kelemahan dirinya.
Ketiga, Yā Wakīl, "Wahai Dzat Yang Maha Mengurus segala urusan."
Di sinilah seorang hamba belajar bertawakal, menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah. Dengan tawakal, hati menjadi tenang karena yakin bahwa Allah-lah sebaik-baik Pengatur segala urusan.
Setelah memohon penjagaan, pertolongan, dan tawakal, barulah doa ini ditutup dengan permohonan keberkahan:
بَارِكْ لَنَا وَلَهُمْ أَجْمَعِينَ
"Ya Allah, limpahkanlah keberkahan kepada kami dan kepada mereka semua."
Keberkahan adalah ketika nikmat dijaga oleh Allah, ditolong oleh Allah, dan diatur oleh Allah.
اَلْبَرَكَةُ هِيَ الزِّيَادَةُ فِي الْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ.
Berkah adalah bertambahnya segala bentuk kebaikan dan pahala serta meningkatnya ketaatan kepada Allah.
Contoh :
Makanan yang berkah bukan sekadar banyak, lezat dan bergizi, tetapi yang menguatkan ibadah.
Tanah yang berkah tidak selalu tanah yang luas dan subur. Makkah dan Madinah adalah wilayah yang gersang, namun menjadi tempat paling mulia di sisi Allah.
Ilmu yang berkah bukan yang paling banyak hafalan dan catatannya, melainkan ilmu yang diamalkan.
Penghasilan yang berkah bukan yang paling besar, tetapi penghasilan yang membawa ketenangan hati dan manfaat bagi yang lainnya.
Umur yang berkah bukan umur yang panjang, melainkan umur yang dipenuhi ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT.
Imam Ibnu 'Aṭā'illāh As-Sakandarī berkata :
رُبَّ عُمُرٍ اتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَقَلَّتْ أَمْدَادُهُ، وَرُبَّ عُمُرٍ قَلِيلَةٌ آمَادُهُ كَثِيرَةٌ أَمْدَادُهُ، فَمَنْ بُورِكَ لَهُ فِي عُمُرِهِ أَدْرَكَ فِي يَسِيرٍ مِنَ الزَّمَنِ مِنْ مِنَنِ اللهِ تَعَالَى مَا لَا يَدْخُلُ تَحْتَ دَوَائِرِ الْعِبَارَةِ وَلَا تَلْحَقُهُ الْإِشَارَةُ
“Betapa banyak umur yang panjang rentang waktunya, namun sedikit keberkahannya. Dan betapa banyak umur yang pendek rentang waktunya, namun banyak keberkahannya. Barang siapa yang diberkahi umurnya, maka ia akan memperoleh dalam waktu yang singkat berbagai karunia Allah Ta‘ala yang tidak dapat dijangkau oleh ungkapan kata-kata dan tidak pula dapat dilukiskan oleh isyarat.”
Imam Ibn ‘Aṭā’illāh mengajarkan bahwa yang terpenting bukan panjangnya umur, melainkan keberkahannya. Sebab umur yang diberkahi Allah, meskipun singkat, dapat melahirkan banyak amal dan manfaat. Keberkahan umur lahir dari hati yang dekat kepada Allah, sehingga zikir dan amal yang ikhlas lebih bernilai daripada banyak amal yang dilakukan dengan hati yang lalai.
Makanya Abu al-Ḥasan asy-Syusytarī berkata:
كُلُّ وَقْتٍ مِنْ حَبِيبِي قَدْرُهُ كَأَلْفِ حَجَّةٍ
Setiap waktu bersama Kekasihku, Nilainya seperti seribu kali haji.
Syekh Abul ‘Abbās al-Mursī raḍiyallāhu ta‘ālā ‘anhu berkata:
أَوْقَاتُنَا كُلُّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. أَيْ: كُلُّ وَقْتٍ عِنْدَنَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ عِنْدَ غَيْرِنَا.
“Seluruh waktu kami adalah Lailatul Qadar.”
Maksudnya, setiap waktu yang mereka lalui dalam kedekatan kepada Allah nilainya lebih utama daripada seribu bulan yang dijalani oleh orang lain yang lalai yang tidak mencapai maqom tersebut.
Al-Qāḍī Abū Bakar Ibn al-‘Arabī al-Ma‘āfirī, murid Imam al-Ghazālī, berkata:
"Aku pernah mencela Syekh Abu Hāmid al-Ghazālī karena beliau memutuskan mengasingkan diri dari manusia, sehingga mereka tidak lagi dapat mengambil manfaat dari ilmu yang telah Allah anugerahkan kepadanya."
Maka Imam al-Ghazālī menjawab dengan bersyair:
قَدْ تَيَمَّمْتُ بِالصَّعِيدِ زَمَانًا وَأَنَا الْآنَ قَدْ ظَفِرْتُ بِمَاءٍ
“Dahulu aku bertayamum dengan debu dalam waktu yang lama,
sedangkan kini aku telah memperoleh air.”
مَنْ سَرَى مُطْبِقَ الْجُفُونِ وَأَضْحَى فَاتِحًا لَا يَرُدُّهَا لِلْعَمَاءِ
“Barang siapa berjalan dalam keadaan kelopak matanya tertutup, lalu keesokan harinya ia menjadi orang yang dapat membuka matanya, maka ia tidak akan mengembalikannya lagi kepada kebutaan.”
Maksud syair ini adalah seseorang yang telah dibukakan mata hatinya oleh Allah dan merasakan kedekatan kepada-Nya, tidak akan rela kembali kepada kelalaian seperti sebelumnya.
Begitu pula keberkahan umur sering kali justru tampak semakin jelas setelah seseorang meninggal dunia. Sebab ukuran keberkahan bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan seberapa besar manfaat yang terus hidup sesudah kepergiannya.
Lihatlah Imam Asy-Syafi‘i رحمه الله. Beliau wafat pada usia 53 tahun. Namun hingga hari ini, lebih dari seribu tahun kemudian, ilmu, pemikiran, dan perjuangannya masih menjadi cahaya yang menerangi umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Demikian pula Gus Miek رحمه الله. Beliau wafat pada usia 53 tahun. Akan tetapi, warisan dakwah dan perjuangannya tetap hidup di tengah masyarakat. Semaan Al-Qur'an dan Dzikrul Ghafilin yang beliau rintis masih terus dilaksanakan dan menjadi sarana mendekatkan banyak orang kepada Allah hingga hari ini.
Maka gus miek mendoakan kita semua agar memperoleh keberkahan. Sebab ketika Allah menurunkan keberkahan, sedikit menjadi banyak, yang singkat menjadi bernilai, dan yang terbatas menjadi luas manfaatnya.
Allah SWT berfirman:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
"Seandainya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi." (QS. Al-A‘rāf: 96).
Komentar
Posting Komentar