وأَنْتَ صَاحِبُ كُنْ فَيَكُونُ إِذَا أَرَدْتَ شَيْئًا وُجُودَهُ فَأَنْتَ مُرِيدُ الْمُرَادِ

 قال غوس ميك رحمه الله و نفعنا به و بعلومه و كرامته في الدارين امين 

وأَنْتَ صَاحِبُ كُنْ فَيَكُونُ إِذَا أَرَدْتَ شَيْئًا وُجُودَهُ فَأَنْتَ مُرِيدُ الْمُرَادِ


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الحمدُ للهِ الَّذِي بِيَدِهِ الْأَمْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْهِ يَرْجِعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ، إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.

اللَّهُمَّ أَنْتَ صَاحِبُ كُنْ فَيَكُونُ، وَإِرَادَتُكَ لَا تُغْلَبُ، وَقُدْرَتُكَ لَا تُحَدُّ، فَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَوَكِّلِينَ عَلَيْكَ.

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ...

Yang kami takzimi, guru tercinta, Murabbī Rūḥinā, Ayahanda KH. Syamsul Ma'arif Hamzah. Semoga Allah Swt. senantiasa memanjangkan usia beliau dalam keadaan sehat walafiat, serta kita semua yang hadir di majelis yang mulia ini selalu berada dalam rida, doa, dan bimbingan beliau. Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

​Yang kami cintai Gus Lubbi, Gus Tomy, Gus Ryan, Gus Najib, Gus Ade, serta seluruh jamaah yang dirahmati Allah SWT.

وَأَنْتَ صَاحِبُ كُنْ فَيَكُونُ إِذَا أَرَدْتَ شَيْئًا وُجُودَهُ فَأَنْتَ مُرِيدُ الْمُرَادِ

“Ya Allah, Engkaulah pemilik kuasa Kun Fayakūn. Apabila Engkau menghendaki sesuatu menjadi ada, maka terjadilah apa yang Engkau kehendaki.”

Kalau direnungkan, bait ini sebenarnya sedang mengajari kita satu hal yang sangat dalam, yaitu siapa Allah dan siapa kita?. Allah adalah صَاحِبُ كُنْ فَيَكُونُ. Sedangkan kita? Kita adalah makhluk yang hidup karena Allah, mempunyai kemampuan karena Allah, memperoleh rezeki karena Allah, dan bahkan bisa duduk di majlis ini pun karena Allah. Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Yāsīn [36]: 82)

Perhatikan kalimatnya:

إِذَا أَرَادَ شَيْئًا

yang artinya : “Apabila Allah menghendaki sesuatu.”

Jadi pusatnya bukan pada keinginan kita. Pusatnya adalah kehendak Allah. Kita boleh punya keinginan. Kita boleh punya rencana. Kita boleh punya cita-cita. Tetapi pada akhirnya bermuara pada satu kalimat:

اللهُ مُرِيدُ الْمُرَادِ

Allah-lah yang menentukan apa yang akhirnya terjadi.

Kadang kita sudah merencanakan sesuatu dengan sangat rapi, ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, kadang-kadang sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan justru Allah datangkan. Kita berpikir, “Jalannya dari sana.” Allah membuka jalan dari sini. Kita menyangka, “Orang itu yang akan menolong.” Allah justru mengirim pertolongan melalui orang yang tidak pernah kita sangka. 

Hadirin yang dimuliakan Allah

Kalau Allah adalah pemilik Kun Fayakūn, pertanyaannya sekarang: Lalu siapa kita?.  Allah berfirman : 

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. al-Nisā’ [4]: 28). Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia, kamulah yang faqir kepada Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fāṭir [35]: 15). 

Jadi sifat dasar manusia adalah lemah, fakir dan selalu membutuhkan Allah. Kalau hari ini kita mempunyai ilmu, itu pemberian Allah. Kalau mempunyai kesehatan, pemberian Allah. Kalau mempunyai kekayaan, jabatan, kemampuan, atau dihormati banyak orang, semuanya juga pemberian Allah. 

Karena itu ada ungkapan:

لَا تُزِيلُ الْعَوَارِضُ الْأَوْصَافَ الْأَصْلِيَّةَ

“Sifat yang datang kemudian tidak menghilangkan sifat yang asli.”

Orang kaya tetap fakir kepada Allah. Orang kuat tetap lemah di hadapan Allah. Orang yang sangat berilmu pun tetap banyak hal yang tidak diketahuinya. Ibn ‘Aṭā’illāh membuat perumpamaan yang sangat indah.

مَا مَثَلُ الْخُصُوصِيَّةِ كَإِشْرَاقِ شَمْسِ النَّهَارِ، ظَهَرَتْ فِي الْأُفُقِ وَلَيْسَتْ مِنْهُ

Kelebihan yang Allah berikan kepada seseorang ibarat cahaya matahari yang menerangi ufuk. Ufuk menjadi terang. Tetapi cahaya itu bukan milik ufuk. Ketika matahari tenggelam, ufuk kembali gelap. 

Kadang Allah memberikan kepada kita masa ketika semuanya terasa mudah. Pada saat seperti itu jangan sampai kita lupa lalu merasa: “Ini karena saya.” Tidak. Kita hanya seperti ufuk yang sedang diterangi matahari. 

Ada satu kisah terkenal tentang Sayyidina ‘Umar bin al-Khaṭṭāb رضي الله عنه. Ketika beliau sedang berkhutbah di Madinah, sementara pasukan Muslim di bawah pimpinan Sāriyah berada jauh di wilayah Persia, tiba-tiba ‘Umar berseru:

يَا سَارِيَةُ، الْجَبَلَ! الْجَبَلَ!

 “Wahai Sāriyah, ke gunung! Ke gunung!”

Beberapa minggu kemudian datang kabar bahwa pada saat pasukan sedang terdesak, Sāriyah dan pasukannya mendengar seruan Umar itu. Mereka segera mengambil posisi ke arah gunung, lalu Allah memberikan keselamatan dan kemenangan.

Kita mengenalnya sebagai karāmah Sayyidina ‘Umar. Tetapi jangan berhenti pada kehebatan ‘Umar. Lihatlah Allah di balik karamah itu.

Sebab ‘Umar tidak mempunyai kekuatan sendiri. Yang memiliki kehendak adalah Allah. Yang memiliki kekuasaan adalah Allah. Yang memiliki  كُنْ فَيَكُونُ hanyalah Allah. Buktinya, Sayyidina ‘Umar yang dari Madinah pernah Allah izinkan suaranya sampai kepada pasukan yang sangat jauh, pada waktu yang lain tetaplah seorang manusia. Beliau bisa terluka, dan akhirnya wafat setelah ditikam ketika sedang memimpin salat Subuh oleh seorang yang bernama Abu Lu’luah yang berdiri tepat dibelakangnya saat shalat.

Rasulullah ﷺ adalah بَشَرٌ لَا كَالْبَشَرِ — manusia, tetapi bukan manusia biasa dalam kemuliaan dan kedudukannya. Beliau tetap memiliki sifat kemanusiaan, sementara Allah memuliakan beliau dengan berbagai mukjizat.

Pernah makanan yang sangat sedikit di rumah Abu Ṭalḥah رضي الله عنه, dengan keberkahan Allah melalui Rasulullah ﷺ, dapat mengenyangkan sekitar delapan puluh orang.

Masya Allah. Secara lahir, keberkahan itu terjadi melalui tangan Rasulullah ﷺ. Tetapi siapa yang menjadikan makanan sedikit itu mencukupi banyak orang?

Allah. Karena:

وَأَنْتَ صَاحِبُ كُنْ فَيَكُونُ

“Engkaulah, ya Allah, pemilik Kun Fayakūn.”

Tetapi lihatlah sisi yang lain. Rasulullah ﷺ yang melalui tangan beliau makanan sedikit bisa mengenyangkan banyak orang, beliau sendiri pernah merasakan lapar. Dalam peristiwa Khandaq, Rasulullah ﷺ sampai mengikatkan batu pada perut beliau karena menahan lapar. Bahkan suatu hari beliau bertanya kepada Sayyidah ‘Āisyah,  هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ “Apakah kalian mempunyai sesuatu untuk dimakan?”. Ketika dijawab tidak ada, beliau bersabda فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ “Kalau begitu, hari ini aku berpuasa.”

Masya Allah. Di satu tempat, melalui tangan beliau makanan sedikit menjadi cukup bagi banyak orang. Di tempat lain, di rumah beliau sendiri tidak ada makanan.

Apa yang sedang Allah ajarkan kepada kita?

Kalau kita memahami ini, hidup terasa lebih ringan. Ketika berhasil, kita bersyukur, karena kita tahu: “Ini bukan semata-mata karena hebatnya saya. Ini karunia Allah.” Dan ketika sesuatu belum berhasil, kita tidak perlu terlalu hancur dan putus asa, karena kita sadar: “Saya memang bukan pemilik Kun Fayakūn.”

Tugas kita adalah berikhtiar, bukan menentukan hasil. Maka jangan berhenti berusaha, tetapi berhentilah merasa bahwa semuanya terjadi karena kita.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAUL 2025

TAWASUL

FADILAH SURAT FATIHAH